Kamis, 12 Februari 2015

PRIBADI YANG UNIK

Columbus, 19 Januari 2015

Di beberapa kesempatan, beberapa teman sering bertanya kepada saya, “hey, gimana nilaimu, tugasmu? Ide kamu gimana?” Teman saya mengajukan pertanyaan tersebut dengan tujuan untuk mengetahui apakah saya sudah selesai mengerjakan atau belum, apakah nilai saya lebih tinggi dari nilai dia, dan banyak lagi alasan yang ingin mengetahui apa yang sedang orang lain lakukan.

Saya ingin menceritakan bahwa dalam belajar, akan lebih baik jika kita fokus terhadap apa yang ingin kita pelajari dan kita tekuni. Kita tidak akan pernah berhasil jika kita tidak fokus akan apa yang ingin kita pelajari. Dulu, ketika saya baru lulus S1, saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri. Waktu yang saya perlukan untuk mewujudkan cita-cita saya tidaklah singkat. Ketika saya masih harus berproses dengan bahasa dan proses mendaftar beasiswa, teman-teman saya yang lain sudah hampir lulus S2. Jika pada waktu itu saya sibuk dengan melihat keberhasilan teman saya, maka besar kemungkinan bagi saya untuk merasa kecewa, sedih, dan menyesal karena telah memutuskan untuk menempuh perjalanan panjang demi menggapai keinginan yang pada waktu itu belum tentu terwujud. Namun berkat ketekunan dan kerja keras, saya tidak pernah berhenti bersyukur bahwa manajer hidup saya menyetujui permohonan saya untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Begitu pula ketika saya menjalani masa perkuliahan di Amerika. Saya tetap belajar untuk fokus terhadap apa yang ingin saya pelajari. Tidak ada manfaatnya jika kita terus membanding-bandingkan apa yang orang lain peroleh dengan apa yang kita peroleh karena proses yang kita lalui bergantung pada setiap tujuan akhir yang ingin kita capai dan keberhasilan kita ditentukan berdasarkan niat kita mencapai cita-cita kita.


Jadilah pribadi yang unik, yang tidak ada duanya, yang berusaha untuk merajut keinginan dengan semangat yang menggila. Semuanya itu bertujuan supaya kita dapat memahami pentingnya arti belajar di proses kehidupan.

Minggu, 18 Januari 2015

PENGALAMAN DIDIDIK DENGAN PENGGARIS


Columbus, 13 Januari 2015

Hari ini saya mengikuti salah satu kelas yang merupakan kelas wajib di Spring 2015. Satu contoh yang dipaparkan dan menurut saya hal tersebut mengingatkan saya kepada kenangan saya waktu duduk di SD. Pengalaman dididik! Ya, ada satu  pengalaman yang ingin saya bagikan dan mungkin Anda akan tertawa.

Waktu itu saya baru memasuki minggu pertama di kelas 1 SD. Sebagai siswa baru, saya berusaha mengikuti setiap materi yang diajarkan di kelas. Sampai tiba waktunya pelajaran agama dimulai. Mayoritas agama yang dianut oleh siswa di kelas tersebut adalah muslim. Waktu itu guru saya mengajarkan materi tentang bagaimana membaca Al Qur’an. Beliau membaca terlebih dahulu dan para siswa mengikuti. Jaman dulu, guru-guru selalu menggunakan penggaris untuk menunjuk hal yang sedang dijelaskan di papan. Penggaris tersebut berguna sebagai alat untuk menunjukkan hal yang sedang dijelaskan.

Ketika membaca Al Qur’an, para siswa sangat aktif mengikuti apa yang dikatakan oleh guru tersebut, kecuali saya. Saya hanya diam dan melihat kegiatan belajar, sampai-sampai…….”tok”!! terdengar suara penggaris yang cukup keras. Ternyata penggaris tersebut mendarat di kepala saya. Saya pun yang waktu itu berusia 7 tahun hanya bisa berkaca-kaca selama beberapa menit. Guru saya bertanya, “kenapa kamu diam saja? Lihat teman-temanmu yang aktif membaca Al Qur’an.” Saya menjawab, “saya bukan muslim Pak.” Mendengar penjelasan saya, sang guru tersenyum saja. Tidak ada kata maaf yang saya dengar dari beliau.

Saya memang tidak mengharapkan kata maaf karena waktu itu saya hanya berpikir bahwa seorang siswa harus mengikuti apa yang guru katakan. Namun sekarang saya menyadari bahwa menjadi guru itu merupakan salah satu model bagi peserta didik. Seorang guru yang berkata maaf kepada muridya tidak akan kehilangan rasa hormat melainkan dapat menjadi contoh bagi peserta didik tentang bagaimana mempertanggung jawabkan apa yang diperbuat.


Semoga dunia pendidikan dapat lebih baik dengan memahami apa arti mengajar sebenarnya.

Sabtu, 10 Januari 2015

BAGAIMANA SIKAPKU KETIKA BELAJAR....?

Columbus 9 Januari 2015


Setelah berakhirnya Fall 2014, maka saya pun menunggu nilai pada semester tersebut. Saya memang sedikit cuwek dengan hasilnya karena yang terpenting buat saya adalah proses yang sudah saya lalui dan saya telah berusaha melalui prosesnya.

Di satu kesempatan, salah satu teman saya, Paul, mengajak saya untuk chating. Saya menjawab iya karena waktu itu saya memiliki waktu senggang. Salah satu topik yang sedang kita bahas saat itu adalah hasil perolehan nilai di Fall 2014. Teman saya bertanya secara halus dengan nada meminta ijin, “Mbak, IP mu rahasia nggak? Kalo rahasia, aku bisa menjaganya untukmu!” Saya menjawab setelah beberapa saat berusaha untuk tidak mengatakan IP saya secara langsung, “lumayan si meski gak bagus-bagus amat, hehe”. Nampaknya obrolan kami berlanjut sampai akhirnya kami mengetahui IP masing-masing. Teman saya sedikit tersenyum (melihat ekspresi stiker yang dikirimkan ke saya) setelah mengetahui bahwa IP saya lebih memenuhi syarat untuk mendaftar pekerjaan  yang dia inginkan jika dibandingkan dengan IP yang dia miliki, hehe. Obrolan kita berlanjut sampai akhirnya dia menjelaskan bahwa untuk menjadi salah satu pengajar di UPH Jakarta, harus ada nilai minimum yang terpenuhi dan nampaknya, nilai teman saya belum mencapai seperti yang dipersyaratkan.

Saya pun bercerita kepada teman saya bahwa sejauh ini yang terpenting buat saya adalah proses yang saya alami. Proses tersebut membuat kita tahu sikap hidup bagaimana yang harus kita miliki ketika mempelajari suatu pengetahuan. Bahwa sikap yang harus kita miliki adalah sikap yang mau untuk belajar atau mengembangkan ilmu yang kita pelajari selama ini.

Teman saya kemudian menanggapi bahwa selama ini dia berpendapat, nilai tinggi adalah yang paling utama karena dengan nilai tinggi yang dapat diperoleh seseorang, maka akan memudahkan orang tersebut mencapai apa yang dicita-citakan. Teman saya menulis  kepada saya, “Awalx sy pikir, IP ITU YG TERUTAMA, Mati matian belajar, demi IP YG BAIK, Bagaimanapun carax, ip harus bagus, There were so many sleepless night..... Demi ip. Demi pengetahuan hanyalah nomor 2. ………Salah ya"! Aku
Saya membagikan pendapat saya bahwa dia tidak salah. Mungkin karena lingkungan kita yang mempengaruhi pemikiran kita.  Selama ini banyak dari orang tua yang menuntut nilai tinggi kepada anak, tapi mungkin mereka melupakan pentingnya pemahaman ilmu yang sedang dipelajari (ini adalah salah satu contoh yang saya ambil dari pengalaman saya mengajar salah satu siswa SD kelas 3. Sang orang tua begitu marah luar biasa ketika mengetahui anaknya mendapat nilai di bawah standar. Yang saya lihat, orang tua tersebut kurang begitu memfokuskan pentingnya pengaplikasian pengetahuan yang didapat oleh anak dalam kehidupan sehari-hari, melainkan lebih kepada hasil akhir.). Teman saya merespon dengan berkata, “Tp tetap aja, ip ku masih rendah”. Saya kembali menjawab bahwa setelah kita melihat dunia yang lebih luas, kita menjadi tahu apa saya yang lebih penting untuk diutamakan dan mana yang harus lebih ditingkatkan. Ketika memiliki banyak pengalaman akan pentingnya belajar dan berinteraksi dengan orang, hal tersebut dapat membuat kita memahami bahwa belajar untuk menjadi seorang yang berhasil itu tidak hanya dilihat dari hasil akhirnya saja melainkan dari proses yang dialami seseorang.


Memang tidak ada salahnya untuk mencapai nilai yang setinggi-tingginya, namun juga jangan lupa bahwa proses belajar itu tidak hanya dinilai dari hasil akhir melainkan juga proses yang kita lalui. Proses tersebut menjadikan kita untuk memahami sikap hidup yang harus kita pahami ketika berada dalam proses pembelajaran. Salah satu contoh sikap yang mungkin dapat dipelajari adalah keinginan untuk terus belajar. Belajar untuk mengembangkan pengetahuan yang kita pelajari selama ini untuk hal yang bermanfaat bagi diri kita dan lingkungan sekitar. Jadi, setelah kita mendapatkan nilai yang tinggi, akan lebih baik jika kita tidak berhenti sampai di situ, melainkan kita mau untuk terus mencari tahu lebih dalam akan hal yang kita pelajari. Jika ingin menjadi orang sukses, jangan berhenti untuk mengembangkan ilmu yang telah didapat selama ini dan jangan mudah menyerah dengan tantangan yang sedang dihadapi.

Kamis, 25 Desember 2014

INDONESIA DIMATA AMERIKA


Columbus 24 Desember 2014

Di winter break 2014 saya mendapat kesempatan untuk menginap selama 3 hari dengan keluarga Amerika yang letaknya di pedesaan di daerah Ballefontaine, Ohio. Untuk menuju ke tempat tersebut, saya bersama rombongan menempuh perjalanan sekitar 1,5 jam. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang diadakan oleh sebuah organisasi di Columbus. Dalam kegiatan ini saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan pemilik rumah yang suka belajar budaya negara lain.

Perbincangan saya dengan keluarga tersebut mencakup beberapa topik tentang budaya Indonesia. Salah satu topik yang saya diskusikan adalah tentang peran wanita di sebuah keluarga. Keluarga tersebut bertanya kepada saya, apakah wanita di Indonesia masih bekerja setelah mereka menikah? Saya menjawab, pada umumnya memang masih bekerja namun ada beberapa dari mereka yang tidak bekerja. Mereka bertanya hal tersebut karena merasa ingin tahu tentang kesetaraan gender di Indonesia. Di Amerika, wanita memang umumnya bekerja, baik sebelum atau setelah menikah. Bahkan terkadang, wanita yang lebih berperan untuk bekerja dan suami membantu pekerjaan istri di rumah seperti memasak. Hal seperti ini yang jarang saya temui di Indonesia, suami memasak dan istri bekerja di luar rumah. Jika ada, hal tersebut kurang banyak dijumpai di budaya Indonesia.


Di kesempatan lain, saya mengobrol dengan keluarga Amerika, tempat dimana saya tinggal, di situ kita berbicara tentang bagaimana kebiasaan mendidik anak di Indonesia. Saya memulai pembicaraan dengan bertanya di usia berapa anak Amerika pada umumnya mandiri. Mandiri dalam arti bahwa mereka mulai keluar dari rumah dan bekerja. Mereka  menjelaskan bahwa pada usia sekitar 17 tahun anak-anak tersebut biasanya mulai keluar rumah atau tidak tinggal bersama orang tua mereka. Pada kasus ini, anak-anak tersebut mulai mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Orang tua mereka masih membantu keuangan meski dengan tidak penuh. Mereka bertanya kepada saya, bagaimana dengan anak Indonesia? Saya menjelaskan bahwa, pada umumnya anak Indonesia pergi keluar rumah di usia 20 ketika mereka harus kuliah (ini adalah contoh yang saya ambil di lingkungan tempat saya tinggal karena di daerah lain mungkin berbeda).  Ada juga yang sudah mulai pergi dari rumah ketika mereka SMA karena jarak sekolah mereka yang jauh dari rumah. Setelah itu, ketika mereka menikah, ada pula keluarga yang masih tinggal bersama dengan orang tua. Hal tersebut sangat jauh berbeda dengan budaya Amerika yang biasanya di usia 17 atau 18 tahun, anak Amerika umumnya tidak tinggal satu rumah dengan orang tua. Dan setelah menikah mereka tinggal dengan keluarga kecil. Mendengar cerita saya, keluarga Amerika tersebut merasa bahwa budaya Indonesia sangatlah manis dan harmonis karena anak masih berada dekat dengan orang tua di usia muda dan bahkan setelah menikah. Mereka berpendapat bahwa jika mereka bisa memilih, mereka akan memilih budaya Indonesia. Alasan utamanya adalah karena mereka ingin anak-anak mereka mendapatkan pengalaman bagaimana pentingnya tinggal dekat bersama dengan keluarga. Menurut keluarga tersebut, anak Amerika memutuskan untuk tinggal ke luar rumah karena hal tersebut merupakan budaya. Orang tua tidak pernah memaksa mereka untuk pergi ke luar rumah. Hanya karena pengaruh budaya dan teman yang membuat mereka harus mandiri.

Di kesempatan lain, ketika saya sedang sarapan, ada seorang wanita muda berusia sekitar 20 tahun yang akan pergi ke Indonesia, Batam, selama beberapa hari sebagai bagian dari kegiatan kuliahnya. Dia sangat antusias untuk mengetahui bagaimana Indonesia dan hal apa saja yang menarik untuk diketahui. Saya menjelaskan bahwa Batam memiliki pantai yang indah. Selain itu, berbicara tentang budaya Indonesia, saya menjelaskan bahwa orang Indonesia pada umumnya bukan merupakan “direct people”. Maksudnya adalah, mereka tidak langsung mengutarakan apa yang mereka inginkan, namun mereka akan mempertimbangkan setelah mendapatkan beberapa tawaran. Contohnya ketika seseorang menawarkan minuman ke teman, mereka biasanya berkata “tidak, terimakasih”. Padahal kenyataanya mereka sangat mau menerima minuman tersebut. Apa yang terjadi kemudian? Mereka biasanya menyesal karena telah menolak. Orang yang menolak biasanya menunggu beberapa kali tawaran sebelum akhirnya mengatakan “iya”. Hal berbeda terjadi di Amerika yang pada umumnya orang Amerika adalah “direct”. Jika kita berkata “tidak” ketika seseorang menawarkan sesuatu, maka kita berarti tidak mau, ataupun kebalikannya. Mendengar penjelasan saya, teman Amerika saya langsung tertawa karena hal tersebut sangat menarik dan unik. Dia pun berkata kepada saya “oh, jadi saya harus berkata Are you sure? Are you sure” sampai beberapa kali ya?” Saya pun juga ikut tertawa melihat ekspresinya.



Mendengar pendapat dari orang Amerika tentang budaya Indonesia, saya merasa tersadar bahwa saya dibesarkan di budaya yang sungguh menghargai arti pentingnya kebersamaan. Pasti semuanya ada sisi positif dan negatifnya. Jika kita akan merasa lebih dekat dengan tinggal bersama keluarga kita, kita pun juga ada kesempatan untuk merasa kurang mandiri dalam menempuh kehidupan. Namun itu semua kembali pada prinsip masing-masing keluarga. Ada yang berpendapat bahwa jika setelah menikah tetap tinggal satu rumah bersama dengan orang tua, kemungkinan terjadi konflik sangatlah besar. Namun, menurut keluarga Amerika, hal tersebut merupakan suatu pelajaran akan bagaimana menyelesaikan konflik dalam keluarga.


           Saya hanya bisa bersyukur karena kedua orang tua saya yang memberikan ijin untuk saya boleh melanjutkan studi ke luar negeri. Hal tersebut merupakan satu keputusan yang tidak mudah yang telah diambil oleh ibu saya, terutama, karena beliau harus merelakan waktu kebersamaan dengan anaknya. Sekarang saya memahami apa pentingnya kebersamaan. Hal tersebut saya dapatkan dari pengalaman saya sejauh ini setelah saya tinggal jauh dari rumah dan mengetahui pendapat orang lain.

Rabu, 10 Desember 2014

FALL 2014 BERAKHIR, Horeee...!!



Ohio Union
Columbus 10 Desember 2014

Tidak terasa bahwa sudah sekitar 5 bulan saya meninggalkan Indonesia untuk belajar di Amerika. Saya merasa waktu berjalan begitu cepat karena sekarang saya sudah berada di penghujung tahun 2014, bulan Desember. Selama masa akhir Fall 2014, saya menemukan hal-hal unik yang sebelumnya saya tidak pernah menemukan.

Di kampus tempat dimana saya menuntut ilmu, kehidupan para mahasiswa sangat diperhatikan oleh pihak kampus. Beberapa organisasi aktif mengadakan kegiatan untuk para mahasiswa dengan tujuan bahwa mereka dapat menikmati kehidupan akademik dengan tidak melupakan belajar. Salah satu kegiatan yang saya ikuti adalah pada pertengahan Fall 2014, pihak kampus menyediakan makan siang atau snack bagi mahasiswa dengan tujuan bahwa mereka dapat menikmati waktu break sejenak di pertengahan semester. Selain itu, memasuki minggu-minggu akhir semester, beberapa pihak kampus menyediakan makan siang secara gratis atau yang dikenal dengan istilah “Reading Day”. Dalam kegiatan ini, mahasiswa dapat mengambil makan dan minum di tengah penatnya waktu belajar untuk menempuh ujian semester. Menu yang disediakan memang tidak terlalu bervariasi namun kegiatan ini sangat membantu para mahasiswa karena mereka mungkin tidak memiliki waktu untuk memasak menjelang ujian semester. Bagi mereka yang tidak makan daging dan para muslim, panitia menyediakan menu vegetarian. Selain itu, di kegiatan yang lain, panitia menyediakan yogurt, kopi, dan kue yang ditujukan untuk para mahasiswa. (dari tadi contoh kegiatannya kok makanan terus ya) :)


 
Hal yang menarik menurut saya adalah selain menu makanan, di salah satu perpustakaan kampus terdapat beberapa ekor anjing yang sangat lucu. Anjing-anjing tersebut disediakan sebagai salah satu cara penghilang stress bagi para mahasiswa yang sedang menempuh ujian.

Sekali lagi saya merasa sangat senang karena pihak kampus benar-benar mendukung para mahasiswa untuk dapat sukses, salah satu kegiatan yang mungkin dapat dijadikan contoh oleh kamps di tanah air. Memang benar bahwa biaya masuk di OSU tergolong mahal namun fasilitas yang didapat juga setara dengan apa yang dikeluarkan. Semoga kampus di Indonesia juga dapat berperan aktif menyediakan kegiatan dan fasilitas untuk kemajuan para mahasiswa dan universitasnya.